October 26th
6:15 AM
‘Yo-Okay- Sexy ~!’
Begitulah bunyi alarm editanku, berulang-ulang selama 3
kali. Suara Alarm, pikirku sambil
mematikan alarm di tab-ku. Mukaku
masih kucel, hawa dingin AC kamar masih menusuk tulang-ku. Aku masih terbalut
dengan selimut kesayanganku. Nyawaku antara ada dan tiada. Aku malas
membangunkan diriku, pasalnya, aku terbiasa bangun jam 10. Lalu, kubereskan
tempat tidur-ku. Dan kemudian, menggambil Blackberry-ku. Mengingat hari ini
ulang tahun sahabatku, Annisa.
Aku dan Annisa-hyung
bertemu di semester baru ini. (Sekedar infomarsi saja, Hyung dalam bahasa korea adalah kakak, namun hanya sesame lelaki
yang memanggil hyung. Karena aku suka iseng, makanya aku memanggilnya hyung )Sudah 2 bulan, kami menjadi teman
akrab, karena memiliki hobi yang sama. Diriku memberi voice note bernyanyi lagu Happy
Birthday dalam bahasa korea, lalu
kusertai dengan kata-kata ucapan. Dia sangat gembira. Saking kerajinannya,
kutimpal lagi dengan ucapan happy birthday di twitter dan facebook.
Oh, Hyung. Kembali lagi aku ucapkan, selamat ulang tahun. Semoga
kau dikelilingi cowok ganteng-ganteng setelah kau mengenalku. You are the best friend ever, and my one of true
classmate. Everything that you do now and till then. I wish you are the best. I
will support you, too, Hyung. Be a good girl and make proud of your parents. I wish
you about one more thing, Do your best for Monday Middle test. It would be one
of hardest thing, yeah, it’s Organizational Communication. Fighthing !!
Back to topic. Sudah kupenuhi dengan ucapan. Aku masih
terduduk diam di sudut kamar. Membuka account twitter, nge-tweet ria dan
me-retweet-ria. Sambil kusenandungkan lagu ‘I’m
with You’-Shinee, mempersiapkan dari awal untuk kucover bersama Annisa-hyung (Stay tuned everyone). Sampai
akhirnya, setengah 7, aku naik keatas untuk mandi.
Begitu selesai, aku langsung memakai softlens dan make-up, jangan lupa berganti baju. Mbak Arisa, membantuku mencatok rambut while I’m chatting with my Hyung. Setelah
selesai, diriku mulailah bermain tab
karena waktu-ku untuk berangkat masih agak lama. Masih setengah 9. Aku bingung apa yang harus kupersiapkan ketika
pada akhirnya si mbak berkata : “non, mending non siap-siap barang bawaan deh.”
Benar juga, aku masuk ke dalam ruang belajar-ku. Memasukkan ponselku,
tab, majalah Re:On, eyeliner, invitation PPBewitched, dan dompet tercinta. Kulirik lagi, jam
dinding.
Oh, sudah waktunya,
pikirku membawa tasku dan berjalan ke teras rumah.
Aku mendeham. Hm, that
devil heels or ankle boots. Agak takut jika aku memakai heels, aku akan
menjadi pusat perhatian. Oh ayolah, Ferin Johannes, kau sudah tinggi. Tinggimu
170cm, menambah tinggi heelsmu yang 5 cm. Jadinya, berapa. Okay, kupasangkan
sepatu boots-ku.
Dan masuk ke mobil.
10.30 AM
Mamaku bingung kenapa aku memintanya untuk mengantarku
ke kampusku. Ya, satu hal yang lucu. Annisa-hyung
tidak tahu jalan. Sudah berapa orang yang memintaku menunjukkan jalan ? Bahkan,
mama-ku tercinta termasuk dalam list-ku. Oh, come on. I’m not a GPS.
Di perjalanan menuju kampus, aku mengutak-atik ponsel-ku. Dan apa yang kudapat di twitter?
London School had an
Open House today.
Aku langsung bersweat
drop-ria. Tidak, Tidak mungkin aku menunggu Annisa di depan lobby kampus.
Kalau ada yang bertanya, mengapa ? Tentu saja, hari ini aku memakai stocking bergaris-garis. And it’s looks too unformal. Bisa-bisa
salah satu dean kampus, menegurku di
lobby dan menceloteh hal-hal yang menyakitkan hati karena akan membuang
waktu-ku untuk tidak hadir di event Platina
Parlour.
Sesampainya, apa kataku. Dean of Perfoming Art Communication's major, Our dearest Mrs. Renata is standing in front of lobby. Back
off !
Lalu ku BBM Annisa
dan berkata :
“Hyung, jemput aku di
ruko dekat nasi padang.”
Ia membalas, “Kenapa,
nuna ?”
“Ada Mrs. Renata.
Bisa mati aku,”
“Okay. Aku mau
nyampe.”
Tidak lama, ia dan mobil-nya menghampiriku. Oh, Hi there. You are really fast,
pikirku sejenak. Beda denganku yang tinggal di daerah kota, Annisa tinggal di
daerah tangerang. Beruntung ia punya supir, jadi setiap hari ia akan bersantai
tidak akan lelah dengan kemacetan di tol.
“Happy Birthday, hyung.” Ucapku, masuk ke dalam mobil.
“Gomawo (terima kasih),
nuna” balasnya tersenyum, membantingkan setir ke arah pintu keluar.
Annisa menggenakan kemeja hitam dan dasi hitam (Ia pinjam
dariku), lalu menggenakan jeans warna
gelap dan sepatu kets putih. Sedangkan, aku. Seperti yang kupost di post aku yang sebelumnya. Aku
menggenakan kemeja lace dengan tanktop hitam, shortpants putih, stocking dan ankle shoes.
Ini membuktikan aku dan Annisa, agak tidak setipe. Aku feminim
dan ia agak tomboy.
Daerah kampus dan Grand Indonesia tidak jauh, hanya membutuhkan
waktu 5-10 menit. Kutunjukkan arah jalanannya dan termasuk tempat parkir yang
sepi. Kulirik lagi jam tanganku, masih ada waktu satu jam. Tanpa ba bi bu,
langsung ke tempat TKP yaitu Krispy Kreme.
11.30 AM
Aku tersenyum puas, selama penantianku 10 bulan (well, terdengar seperti ibu hamil). Karena event bulan juni aku tidak ikut karena
ada kesibukan tersendiri, maka aku memesan slot
untuk event ini. Agak seram waktu mendaftar, aku berasa seperti ‘Shut up and Take my money’. Seperti yang
kita ketahui dan semua orang ketahui bahwa (Rin,
you speak like a President) slot
semua penuh hanya kurang dari 24 jam. Antara bersyukur dan juga ikutan ngeri,
jika kemarin aku menunggu keputusan teman kuliahku yang lain. Yakin dan pasti,
aku tidak dapat slot manapun.
Feeling blessed, that’s
a suit word for this condition.
Aku melirik ke arah kondisi krispy kreme. Seperti biasa, nona-nona langganan sudah datang. Aku
masih gugup dan aku sudah mengulang kata “capek” kepada Annisa. Ya, siapa yang
tidak capek ? Aku kemarin terkena sial, terjebak macet saat hari ujian dan
mengerjakan ujian hanya dengan waktu setengah jam. Dan aku lelah karena setelah
ujian, aku harus terbang ke tempat latihan teater untuk berlatih nari. Aku,
lalu mampir ke Konikuniya. Siapa tahu aku menemukan sesuatu. Setelah selesai,
jam 12 tepat, aku kembali ke TKP.
Aku berjalan terus ke arah kakak booth merchandise sambil mengeluarkan invitation. Lalu, ia
mempersilakan aku ke tempat booth
yang sebenarnya dimana 2 orang staff yang
cantik mengurusi jadwal slot. Jemariku
member invitation ke arah kedua staff dan ia tersenyum.
“Nona, butlernya tinggal dua pilihan.” Ia memberikan 2 foto
dengan keadaan terbalik.
‘Kenapa firasatku
tiba-tiba aku akan bersama dengan Sei atau Yui,’ pikirku lagi.
Kulirik kearah Annisa yang masih terdiam. Tadinya aku
berniat, ia yang memilih. Eh, akhirnya aku yang memilih. Dan voila, benar dugaanku, Sei. Kemarin dengan senior
kesayangannya, Ken. Tadi kupikir yang
difoto itu adalah Yui. Sei terlihat
beda dan … … entahlah, feromon Sei
mulai merasuki-ku. Apa ini efek Halloween
?
“Nanti kembali lagi, nona. Kami akan memanggil nona 10 menit
sebelum masuk.” Ujar salah satu staff.
Aku tersenyum, “Terima kasih.”
“Nona, silakan di ambil pin-nya,” kata yang lainnya.
Aku memasukkan tanganku ke dalam kotak. Berharap ini Kai atau siapapun itu. Dan … Aku hanya
tersenyum dengan ber-sweat drop-ria.
Aku dapat Riku, Nona-nona.
Saat Annisa memasukkan tangannya ke kotak dan ia mendapatkan
Kai. Mataku melongo. Astaga. Kai !
Lalu dengan cepat tapi pasti, ku tukar pin Riku dengan Kai. Kedua staff di
depanku, sedikit tersontak kaget.
“Mwoya ? (Apaan sih ?)” kata Annisa dalam bahasa
korea.
“Aku mau mengoleksi merchandisenya si Kai,” kata-ku dengan
nada memelas.
Ia hanya mendengus kesal, “Nuna ! Kembalikan Pin Kai !!”
“Oh ayolah, hyung ! Aku ingin mengoleksi merchandise Kai !
Kumohon ~! Aku sudah punya pin Kai-Kou dan gantungan kunci. Kumohon, Hyung ~!”
aku memelas lagi.
“Oh, baiklah.” Ia mengalah.
Aku tersenyum senang dan memasukan pinnya. Lalu, aku
teringat dengan kembaran—ralat, temanku yang sudah aku anggap sebagai kembaran.
Ia ingin menitip foto Yui. Hampir saja, aku lupa. Aku hampiri booth merchandise.
“Photopack-nya
berapa, kak ?” tanyaku.
“30.000. 1 setnya, berisi 5.” Jawabnya singkat dan jelas.
Aku tersenyum, sambil memilah-milih photopack tersebut.
“Yang mana yang Yui,”—Pertanyaan yang bodoh, aku tahu itu.
“Ini yang Yui, isi random, kok” katanya lagi, menunjuk ke arah
photo Yui.
Tanpa ba bi bu, “Yang ini saja, kak…”
Aku menunjuk foto Yui. Ia mencabut plastik foto tersebut.
Dan aku menyerahkan uangku.
Twinnie, misiku
selesai. Menatap pasti foto Yui—Yui buatlah hati kembaranku senang.
Tak lama kemudian, aku dan Annisa dipanggil masuk oleh ka keito—atau ka kate pada jam 12.35. Aku
dituntun oleh ka keito ke depan tirai, dan Sei siap menyambut kami.
“Selamat datang, nona. Em, Ada yang bisa saya bantu bawakan
?” katanya ramah.
Sei. Oh, Sei. Kau ramah sekali. Aku memangutkan kepala dan
tersenyum, memberikan tas ungu-ku ke tangan Sei. Begitu pula dengan Annisa. Ia
pun menuntun kami ke dalam. Para member butler lainnya, terbagi dua barisan dan
menyambut kami berdua masuk.
“Selamat datang, nona.”
Lagi-lagi aku memanggutkan kepala dan mengikuti Sei. Tempat
duduk kami di pojokkan. Aku melihat sekeliling, ada riasan Halloween. Karena Halloween ada
coffin dipojokkan. Kukira Sei akan
memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkiraanku salah ia memohon diri untuk
menggambil menu makanan manis kami.
Dan tepat di sebelah mejaku adalah meja Ken. Ini kenapa Ken
bersebelahan dengan meja Sei ? Aku hanya menggangguk cuek bebek. Tetapi agak
kangen (?) dilayani oleh Ken, the first
butler who served me. Mini event, it’s
kinda mini, though I love the place which is very convenient than the last I
came.
Tak lama, Sei menaruh piring kami berdua.
“Terima kasih, Sei.” Aku tersenyum.
“Sama-sama, nona.” Lalu ia memohon diri dan menggambil paper cup kopi kami, sekaligus garpu dan
juga pisau.
“Terima kasih, Sei.” Kataku lagi.
“Sama-sa… Oops,” Ia tak sengaja membenturkan pisau dan
garpunya (?).
“Ah …” gumamku kuatir.
“Maaf, nona.”
“Tidak apa-apa.” Balasku.
Ia pun pergi menaruh nampan.
Catatan : Table manner milik Sei mendapatkan 4 poin dari 5
poin yang kuberikan. Sayang sekali ia
membenturkan garpu dan pisaunya (?) dan
kurang cepat menyusunnya. Poin plusnya, cara letak garpu dan pisau benar-benar
sesuai aturan. I’m appreciated.
Aku tersenyum antusias, dan Annisa masih terlihat bingung.
Astaga, aku lupa ia baru pertama kalinya dan dia tipe orang yang masih bisa
beradaptasi jika baru bertemu dengan orang lain untuk pertama kalinya.
“Aku capek, Hyung.” Kataku memecahkan keheningan.
“Kamu sudah ngomong berapa kali, huh ?” balasnya sebal
dengan kataku tadi.
Cepat kilat, Sei sudah di samping kami.
“Maaf, nona. Sebelum nona menyantap hidangan nona. Nona,
sebelumnya pernah ke sini ?” tanyanya.
“Aku pernah,” aku mengangkat tangan, “Tapi, dia baru pertama
kali.”
“Baiklah, kalau begitu nama saya Sei. Dan bolehkah saya tahu
nama nona ?”
“Aku Ferin, dan dia Annisa…” kataku sambil mewakili Annisa.
Ia sambil mengingat-ingat. “Bila ada pertanyaan, boleh tanya
pada saya.”
Karena kudengar Sei adalah butler mysterious. Maka kutanya lah dia.
“Jadi, Diablo itu wujudnya seperti apa ?” tanyaku masih
bingung dengan wujud Diablo.
“Diablo itu wujudnya seperti kegelapan, nona.” Jawabnya. Mulailah
ia menjelaskan keadaan dari event kali
ini. Seperti yang kita semua tahu bahwa
event sedikit misteri karena para butler terlempar ke dalam portal kegelapan,
atau semacam itu. Aku mendengarkan penjelasan Sei yang kurang lebih sama dengan
laporan para staff di fanpage facebook. Dan ia mengatakan hint butler
mana yang sudah terasuki Diablo.
Hint : Butler yang lengannya tidak sengaja di robek Sei.
Aku terdiam. Melihat sekeliling, dan menebak bahwa Rei lah
pelakunya. Sei bilang, tahan jawabannya dan menjawabnya nanti saat sudah
saatnya. Aku menggangguk senang. Tiba-tiba, fotographer bertopeng tengkorak dan
bertopi kucing menghampiri kami. Aku merengek takut. Pasalnya, aku takut
berpikiran aneh-aneh karena rumahku sedikit angker dan aku bisa merasakan
keberadaan makhluk halus itu. Di
rumahku di lantai atas, ada seorang hantu gadis kecil berbaju putih. Kalau aku
turun tangga, dia pasti mengikutiku. Aku tidak mau sampai rumah, aku tidak bisa
ke lantai atas. Memang sih, aku suka hal-hal horror. Setelah nonton conjuring, efek sampingnya malah sampai
sekarang. Aku tidak tenang dengan tempat gelap.
Lalu, kami pun diajak untuk berfoto.
“Jadi, nona mau aku di posisi mana ?” tanya Sei.
“Di tengah, Sei…” jawabku.
Ia merubah posisinya dari yang di sampingku ke tengah antara
aku dan Annisa. Oh, jadi Sei, kau
memisahkan aku dan Annisa. /salah/
“Ada request berpose seperti apa, nona ?” tanyanya.
Aku menggeleng cepat, “Hm, tidak usah, Sei.”
Karena aku tidak mau
repot dan macam-macam, Sei, lanjutku dalam hati.
Begitu ambil posisi untuk berfoto, sang bertopeng tengorak
tadi tiba-tiba melepaskan item-nya dan bersiap
memfoto kami. Bersyukur ia
melepas topeng itu. Aku merasa Sei sedikit kurang tinggi dariku. Setahuku, Sei
tingginya 170 cm dan aku juga 170 cm. Kenapa dia ? Aku mulai berkomat-kamit di
dalam hati. Apa salah boots-ku ? Tidak, boots-ku tidak hak sama sekali. Apa iya
ini karena aku bertambah tinggi lagi ?
Setelah selesai, berfoto. Kami duduk kembali. Namun tidak untuk
Sei, ia tetap berdiri di sampingku.
“Jadi nona,” ia melihatku. Aku mendongak seperti tatapan ‘ya-ada-apa-sei?’
“Nona suka siapa di Platina Parlour ?”
“Aku suka … “ kulirik Ken yang di sampingku, kembali
menatapnya, “Aku suka Ken, Kou, Kai, Sei …”
Aku menatap Sei yang tersenyum, “dan Yui.”
“Wah banyak sekali, nona ~” ia terkekeh. Aku juga ikut
terkekeh.
Ku potong donat-ku sepotong, lalu kulirik Sei yang masih
berdiri. Karena aku orangnya tidak tegaan, dan tahu ia akan berdiri selama 45
menit. Lebih baik kusuruh ia duduk saja.
“Sei,” panggilku.
“Iya, nona ?” jawabnya. Ia tampak sudah siap dengan sejuta
pertanyaan yang aku tanyakan.
“Sei, duduk saja. Sei nggak capek ?” ujarku polos—ralat,
terlalu polos.
“Oh, nona mempersilahkan saya untuk duduk ?” ia menunggu
jawabanku. Tampaknya ia senang. Aku juga ikut senang. /salah/
“Iya,” aku mengangguk tersenyum.
Ia bingung antara duduk di sampingku atau menarik kursi
sebelah dan duduk di sebelah Annisa.
“Nona, Mau saya duduk dimana ?” tanyanya lagi.
“Terserah Sei saja,” aku kembali tersenyum.
Ia menggeser kedua tas di sampingku dan duduk di sampingku, “Terima
kasih, nona telah membiarkan aku duduk.”
“Sama-sama, Sei. Habis kasihan dirimu, Sei.” Cibirku, menusuk
potongan donat dengan garpu.
Aku makin grogi. Oh, Tuhan. Diriku tidak kuat melihat anak
yang duduk di sampingku. Aku sudah memasang muka polos bin mesam-mesam. Namun,
kata Annisa, pipiku merah dan manis sekali. Merahnya mungkin karena efek blush-on. Ya, mungkin.
“Jadi, Sei. Aku mau tanya…” kata Annisa memecahkan
keheningan.
“Apa yang boleh tanya darimu ?” lanjutnya.
Aku ingin menjelaskannya, namun aku biarkan sang misterius ini menjelaskan.
“Hm… Nona tidak boleh masa yang terlalu privacy,” jelasnya.
Suaranya sempat bingung.
“Maaf, aku baru pertama kali ke sini …” ujarnya.
Maka, Sei menjelaskan konsep dan asal muasal kafe ini di
bentuk. Annisa-hyung mendengarkannya
dengan seksama. Seperti dosen dan sang mahasiswa. Begitu selesai menyantap
donut manis itu langsung kutegukkan kopi-ku tanpa gula. Annisa saja, ia harus
meminta gula. Tetapi aku tidak, aku seorang kafein. Aku sudah terbiasa dengan espresso yang pahit luar biasa. Tak
lama, Rei menyandungkan lagu ‘My fair
lady’ sambil berkeliling. Kenapa Rei ? Kau kelihatan suram ? Apa efek halloween
? Lalu dilanjutkan sang fotographer, disambung Shuu, lalu terakhir Sei.
Oh, sial. Lagu ‘My fair Lady’ punya kenangan buruk
untukku. Karena aku pernah menyunting film hantu saat aku masih SMA. Dan, aku
setannya. Sudah jangan banyak ketawa ! Reader jangan ketawa ! Nah, di situ aku
ada adegan memiringkan wajah pucatku ke kamera dan bersandung lagu ‘My Fair Lady’. Sialnya, setelah syuting,
aku tertabrak pintu kaca dengan teman satu syuting. Dan alhasil, aku dan
temanku di larikan dan mendapat 4 jahitan di lengan dan kaki, sedangkan dia
20-24 jahitan di bagian betis.
Banyak yang percaya karena memang ada penghuni lain di sekolahku
itu yang dulunya rumah sakit zaman belanda.
Sungguh. Aku merinding dengan lagu itu. Kenapa banyak
hal-hal yang kebetulan sama dengan cerita setan milikku ya.
Sei pun memindahkan
dan merapikan meja kami, begitu tahu aku sudah selesai makan. Memindahkan
piring ke meja sebelah yang kosong. Ternyata, ia mengajak kami bermain game ‘menemukan-foto-Sei’. 10 foto member
dengan pose duduk di atas sofa besar diletakan terbalik, setelah ia mengshuffle 10 foto tersebut. Tetapi
kita tidak boleh memilih foto Touya, Kou, dan Riku. Dimulai lah dari aku.
“Ini…” kataku, menunjuk foto dengan cepat.
“Nona, yakin ?” katanya sebelum membalikkan fotonya.
Aku menatapnya, ia sedang menggodaku untuk membuatku
ragu-ragu.
“Ya sudah yang ini saja,” kataku dengan mantap.
Ia pun membalikkan fotonya dan itu Ken. Aku mendeham. Kenapa
harus kau, Ken ?
“Kesempatannya hanya tinggal 3 lagi, nona.”
Aku benci permainan ini. Karena ditanganku ada 1 : 10. Dan 3
diantaranya tidak boleh di pilih. Kalau di game Nintendo DS, pasti aku bisa
menemukannya dengan cepat. Aku lebih baik memilih jankenpon acchi muite hoi. Karena perbandingannya hanya 1 : 3.
Lebih gampang dari 1 : 10. Di event sebelumnya, aku juga memainkan game yang
sama, bedanya 1 : 7. Masih lebih mudah. Ini dipersulit. Ya sudah, aku memang
tidak pandai.
“Ini …” kataku asal. Karena aku sudah menyerah.
Dan benar, saat di buka itu foto Riku. Aku segera men-death glare foto Riku. Sebal. Riku,
Bandit. /dilempar pisau oleh yang bersangkutan bersama dengan fans Riku/.
“Sayang sekali, nona anda kurang beruntung …”
Aku menatap pasrah, kartu tersebut. Sebal.
“Mari kita cari foto saya,” ia membuka satu per satu. Dan,
sebal. Ternyata letak fotonya ada di pilihan pertama yang ku jawab tidak jadi.
Sei ! Kau harus tanggung jawab. Aku sebal.
Kemudian, ia mempersilahkan Annisa untuk bermain. Aku hanya
menyedot-sedot kopi-ku yang sudah habis. Masih ada creamer di dalamnya. Aku suka creamer
di setiap hot coffee di semua stal
termasuk di Krispy Kreme. Melihat Annisa bermain dengan
kartunya, dan sayang sekali ia juga tidak beruntung. Sudahlah. Next time, ada
kesempatan. Aku berusaha untuk menghibur hati.
“Nona,”
Aku menoleh ke arah Sei yang memanggilku.
“Ya, Sei ?”
“Boleh ceritakan sedikit pengalaman nona di event sebelumnya
?” tanyanya antusias.
“Em ~ Kan… Aku event pertamanya juga Krispy Kreme, terus aku di layanin sama Ken…” jelasku hingga
tiba-tiba Ka Kate membunyikan loncengnya.
Ah. Sudah saatnya tiba. Kami akan ditarik untuk game finale. Menemukan siapa yang dirasuki
oleh Diablo.
Tentu saja, Rei.
“Ingat hint-nya, nona. Baca mantra Rei.”
Mendadak otakku berhenti. Seperti kaset rusak. Mantra Rei
katamu, Sei. Aku bahkan tidak menemukan mantra Rei. Selain Ken, Kou, Kai, Shuu
dan Jun. Rasanya ingin kupeluk kembaranku, sekarang juga. Namun bodohnya, aku
ingin mengangkat tangan. Berharap ka kate tidak melihatku.
“Ah, sayang sekali, nona-nya Kai sudah di dahului.” Komentar
Sei.
Aku menghela nafas. Ya sudahlah. Aku menatap indah, nona-nya
Kai. Fighthing !!
Namun, sayangnya. Mereka gagal.
“Ah, mereka gagal,” komentar Sei.
“Iya…” lanjutku.
“Jadi, nona.” Katanya lagi.
“Hm ?”
“Lanjutkan ceritamu tentang event pertama-mu,”
“Oh iya ~!” aku mulailah bercerita dan menatap Sei, “Jadi.
Butler pertamaku, Ken. Karena aku dan teman-temanku baru pertama kali datang.
Jadi sedikit awkward. Tapi, Ken… Baik
~ Dia selalu mincing kita buat
mengobrol sama dia.”
Sei tersenyum saat aku bercerita tentang Ken, dia pendengar yang baik. Untungnya, aku
saat itu masih polos dan sinyal fujo-ku sedang turn-off. Bisa-bisa meja kafe ku sepak terjang.
“Oh iya, Sei ~! Nona Annisa berulang tahun, lho !!” cibirku.
Annisa tersontak kaget.
Aku tersenyum puas.
“Oh iya !!” Sei langsung menjabat tangan Annisa dengan 2
telapak tangannya, “Selamat ulang tahun ~!”
“Terima kasih, Sei.” Ucap Annisa tersenyum.
Aku senang. Senang pake banget. Aku bukan yang berulang
tahun, tetapi melihat temanmu berulang tahun dan bahagia. Tidakkah kau senang.
Aku senang kalau tanggal event ini bertepatan dengan ulang tahunnya. Ini diluar
dugaanku. Tetapi, aku berhasil membuat harinya tambah bahagia saat Sei
mengantarkan kami keluar, tetapi ia mulai bisik-bisik dahulu dengan sang manager, Kak Kate.
Ka Kate kembali mendentangkan loncengnya, “Semuanya
perhatian.”
Aku tersenyum antusias, Annisa tersenyum gugup saat semua
orang menatap dirinya. Semua orang seisi kafe.
“Nona saya berulang tahun,” ucap Sei.
Jun tersenyum, “Wah ! Selamat ya, nona. Kita harus ucapkan
nih.”
Annisa menggangguk malu.
“Jadi, bolehkah saya tahu nama nona siapa ?” tanya Jun
kepada Annisa.
“Annisa…” jawab Annisa singkat.
“Ken, Ken…” panggil Jun. Ken tampaknya masih sibuk dengan
ketiga nona-nya.
“Ya ?” Ken mendongak.
“Nona ini berulang tahun, kita ucapkan bersama-sama.”
Ken melangkah, mendekat.
“1…2…3…” Jun memberi aba-aba.
“Selamat Ulang Tahun, Nona !” seru para butler dan diikuti
tepuk tangan dari para nona sekaligus staff.
Kulihat Annisa sudah mulai terharu. I know this moment will one of the best moment in her every birthday
moment. Ia menahan rasa terharunya dan mengucapkan terima kasih. Lalu, Sei
mengantarkan kami keluar. Aku tersenyum senang, begitu pula dengan Annisa.
“Ini nona, tasnya” kata Sei memberikan tas kami.
Kami mengambil tas kami, “Terima kasih, Sei.”
“Iya, sama-sama. Datang kembali, ya ?”
Aku pun melambai
pelan padanya, “Iya, Dagh-dagh, Sei ~!”
Ia tersontak dan tersipu sambil membalaskan lambaianku
pelan, “Dagh.”
Eh. Kenapa? Aku bilang dagh-dagh ? Aduh, kebiasaan.
Well, apapun itu kembali aku hanya bisa tersenyum puas
dengan hari ini. Semua kemanisan menjadi satu. Makanan yang manis. Event yang
manis. Butler yang manis. Momen manis untuk sahabatku. Ini Sweetest Halloween party ever.
Begitu keluar area, aku bertemu dengan teman cosplayku yang
seharusnya sejam denganku. Namun, mereka terlambat. Mei-mei—atau banyak memanggilnya Li—ia menangis karena tidak dapat masuk. Aku orangnya punya rasa keibuan atau kakak yang baik (begitulah kata beberapa teman yang dibawah
umurku). Aku spontan mengusap airmatanya, namun airmatanya tak kunjung
berhenti. Aku bingung harus bagaimana. Aku pun permisi untuk pergi dan akan
kembali dengan mereka setelah I spent my
time with my friend who is birthday today. Eh, aku juga bertemu dengan Ka
Aschid. Aku memang sempat janji bertemu dengannya.
Akhirnya, sekian lama aku
bertemu dengannya. Senangnya diriku.
Setelah itu kulanjutkan, diriku bersama Annisa.
“Nuna, aku lapar.”
Aku terdiam, terkekeh.
“Ya sudah, aku temani kau makan. Aku sudah kenyang,” ujarku.
See you at next event
~
P.S
Annisa tadi memang tidak menghabiskan donat-nya, dan
melanjutkan ronde-2nya dengan sepiring spagetthi
di restoran langganan-ku, Pasta de Waraku.
Ia mentraktir-ku secangkir hot ocha
dan Ice-cream pizza mini.
P.S.S
Annisa menukarkan foto keluarga Platina Parlour dengan pin Riku-nya. Riku kembali lagi kepadaku.
P.S.S.S
Annisa mengatakan bahwa ia suka Rei. Aku hanya terdiam.
P.S.S.S.S
Aku ada ngomong dengan Sei, jika aku kangen Kou. Dan aku
salah ngomong. SALAH.
P.S.S.S.S.S
Aku lupa titip salam untuk Yui dari kembaranku. Lupa sangat.
P.S.S.S.S.S.S
Berikut Selca aku dengan hyung-ku, Annisa. Dan Our mysterious,yet, sweet butler, Sei.
![]() |
| Selca with today's lucky girl >3< |
![]() |
| This is Mysterious, yet, Sweet Butler--Sei. |
Note ;
- Overall the event is blast :))
- Service quite good ~ !
- A good table manner
- A good character butler become my listed favorite butler. Kuudere, yet, sweet. Remind me with Kuroko Tetsuya.
XOXO,
Ferin.


