Saturday, October 26, 2013

Platina Parlour : Bewitched, A Sweetest Halloween Party


October 26th

6:15 AM

‘Yo-Okay- Sexy ~!’
Begitulah bunyi alarm editanku, berulang-ulang selama 3 kali. Suara Alarm, pikirku sambil mematikan alarm di tab-ku. Mukaku masih kucel, hawa dingin AC kamar masih menusuk tulang-ku. Aku masih terbalut dengan selimut kesayanganku. Nyawaku antara ada dan tiada. Aku malas membangunkan diriku, pasalnya, aku terbiasa bangun jam 10. Lalu, kubereskan tempat tidur-ku. Dan kemudian, menggambil Blackberry-ku. Mengingat hari ini ulang tahun sahabatku, Annisa.

Aku dan Annisa-hyung bertemu di semester baru ini. (Sekedar infomarsi saja, Hyung dalam bahasa korea adalah kakak, namun hanya sesame lelaki yang memanggil hyung. Karena aku suka iseng, makanya aku memanggilnya hyung )Sudah 2 bulan, kami menjadi teman akrab, karena memiliki hobi yang sama. Diriku memberi voice note bernyanyi lagu Happy Birthday  dalam bahasa korea, lalu kusertai dengan kata-kata ucapan. Dia sangat gembira. Saking kerajinannya, kutimpal lagi dengan ucapan happy birthday di twitter dan facebook.

Oh, Hyung. Kembali lagi aku ucapkan, selamat ulang tahun. Semoga kau dikelilingi cowok ganteng-ganteng setelah kau mengenalku. You are the best friend ever, and my one of true classmate. Everything that you do now and till then. I wish you are the best. I will support you, too, Hyung. Be a good girl and make proud of your parents. I wish you about one more thing, Do your best for Monday Middle test. It would be one of hardest thing, yeah, it’s Organizational Communication. Fighthing !!

Back to topic. Sudah kupenuhi dengan ucapan. Aku masih terduduk diam di sudut kamar. Membuka account twitter, nge-tweet ria dan me-retweet-ria. Sambil kusenandungkan lagu ‘I’m with You’-Shinee, mempersiapkan dari awal untuk kucover bersama Annisa-hyung (Stay tuned everyone). Sampai akhirnya, setengah 7, aku naik keatas untuk mandi.

Begitu selesai, aku langsung memakai softlens dan make-up, jangan lupa berganti baju. Mbak Arisa, membantuku mencatok rambut while I’m chatting with my Hyung. Setelah selesai, diriku mulailah bermain tab karena waktu-ku untuk berangkat masih agak lama. Masih setengah 9. Aku bingung apa yang harus kupersiapkan ketika pada akhirnya si mbak berkata : “non, mending non siap-siap barang bawaan deh.”

Benar juga, aku masuk ke dalam ruang belajar-ku. Memasukkan ponselku, tab, majalah Re:On, eyeliner, invitation PPBewitched, dan dompet tercinta. Kulirik lagi, jam dinding.

Oh, sudah waktunya, pikirku membawa tasku dan berjalan ke teras rumah.

Aku mendeham. Hm, that devil heels or ankle boots. Agak takut jika aku memakai heels, aku akan menjadi pusat perhatian. Oh ayolah, Ferin Johannes, kau sudah tinggi. Tinggimu 170cm, menambah tinggi heelsmu yang 5 cm. Jadinya, berapa. Okay, kupasangkan sepatu boots-ku.

Dan masuk ke mobil.

10.30 AM

Mamaku bingung kenapa aku memintanya untuk mengantarku ke kampusku. Ya, satu hal yang lucu. Annisa-hyung tidak tahu jalan. Sudah berapa orang yang memintaku menunjukkan jalan ? Bahkan, mama-ku tercinta termasuk dalam list-ku. Oh, come on. I’m not a GPS. Di perjalanan menuju kampus, aku mengutak-atik ponsel-ku. Dan apa yang kudapat di twitter?

London School had an Open House today.

Aku langsung bersweat drop-ria. Tidak, Tidak mungkin aku menunggu Annisa di depan lobby kampus. Kalau ada yang bertanya, mengapa ? Tentu saja, hari ini aku memakai stocking bergaris-garis. And it’s looks too unformal. Bisa-bisa salah satu dean kampus, menegurku di lobby dan menceloteh hal-hal yang menyakitkan hati karena akan membuang waktu-ku untuk tidak hadir di event Platina Parlour.

Sesampainya, apa kataku. Dean of Perfoming Art Communication's major, Our dearest Mrs. Renata is standing in front of lobby. Back off !

Lalu ku BBM Annisa dan berkata :

Hyung, jemput aku di ruko dekat nasi padang.”

Ia membalas, “Kenapa, nuna ?”

Ada Mrs. Renata. Bisa mati aku,”

Okay. Aku mau nyampe.”

Tidak lama, ia dan mobil-nya menghampiriku. Oh, Hi there. You are really fast, pikirku sejenak. Beda denganku yang tinggal di daerah kota, Annisa tinggal di daerah tangerang. Beruntung ia punya supir, jadi setiap hari ia akan bersantai tidak akan lelah dengan kemacetan di tol.

Happy Birthday, hyung.” Ucapku, masuk ke dalam mobil.

Gomawo (terima kasih), nuna” balasnya tersenyum, membantingkan setir ke arah pintu keluar.

Annisa menggenakan kemeja hitam dan dasi hitam (Ia pinjam dariku), lalu menggenakan jeans warna gelap dan sepatu kets putih. Sedangkan, aku. Seperti yang kupost di post aku yang sebelumnya. Aku menggenakan kemeja lace dengan tanktop hitam, shortpants putih, stocking dan ankle shoes.

Ini membuktikan aku dan Annisa, agak tidak setipe. Aku feminim dan ia agak tomboy.
Daerah kampus dan Grand Indonesia tidak jauh, hanya membutuhkan waktu 5-10 menit. Kutunjukkan arah jalanannya dan termasuk tempat parkir yang sepi. Kulirik lagi jam tanganku, masih ada waktu satu jam. Tanpa ba bi bu, langsung ke tempat TKP yaitu Krispy Kreme.

11.30 AM

Aku tersenyum puas, selama penantianku 10 bulan (well,  terdengar seperti ibu hamil). Karena event bulan juni aku tidak ikut karena ada kesibukan tersendiri, maka aku memesan slot untuk event ini. Agak seram waktu mendaftar, aku berasa seperti ‘Shut up and Take my money’. Seperti yang kita ketahui dan semua orang ketahui bahwa (Rin, you speak like a President) slot semua penuh hanya kurang dari 24 jam. Antara bersyukur dan juga ikutan ngeri, jika kemarin aku menunggu keputusan teman kuliahku yang lain. Yakin dan pasti, aku tidak dapat slot manapun.

Feeling blessed, that’s a suit word for this condition.

Aku melirik ke arah kondisi krispy kreme. Seperti biasa, nona-nona langganan sudah datang. Aku masih gugup dan aku sudah mengulang kata “capek” kepada Annisa. Ya, siapa yang tidak capek ? Aku kemarin terkena sial, terjebak macet saat hari ujian dan mengerjakan ujian hanya dengan waktu setengah jam. Dan aku lelah karena setelah ujian, aku harus terbang ke tempat latihan teater untuk berlatih nari. Aku, lalu mampir ke Konikuniya. Siapa tahu aku menemukan sesuatu. Setelah selesai, jam 12 tepat, aku kembali ke TKP.

Aku berjalan terus ke arah kakak booth merchandise sambil mengeluarkan invitation. Lalu, ia mempersilakan aku ke tempat booth yang sebenarnya dimana 2 orang staff yang cantik mengurusi jadwal slot. Jemariku member invitation ke arah kedua staff dan ia tersenyum.

“Nona, butlernya tinggal dua pilihan.” Ia memberikan 2 foto dengan keadaan terbalik.

‘Kenapa firasatku tiba-tiba aku akan bersama dengan Sei atau Yui,’ pikirku lagi.

Kulirik kearah Annisa yang masih terdiam. Tadinya aku berniat, ia yang memilih. Eh, akhirnya aku yang memilih. Dan voila, benar dugaanku, Sei. Kemarin dengan senior kesayangannya, Ken. Tadi kupikir yang difoto itu adalah Yui. Sei terlihat beda dan … … entahlah, feromon Sei mulai merasuki-ku. Apa ini efek Halloween ?

“Nanti kembali lagi, nona. Kami akan memanggil nona 10 menit sebelum masuk.” Ujar salah satu staff.

Aku tersenyum, “Terima kasih.”

“Nona, silakan di ambil pin-nya,” kata yang lainnya.

Aku memasukkan tanganku ke dalam kotak. Berharap ini Kai atau siapapun itu. Dan … Aku hanya tersenyum dengan ber-sweat drop-ria.

Aku dapat Riku, Nona-nona.

Saat Annisa memasukkan tangannya ke kotak dan ia mendapatkan Kai. Mataku melongo. Astaga. Kai ! Lalu dengan cepat tapi pasti, ku tukar pin Riku dengan Kai. Kedua staff di depanku, sedikit tersontak kaget.

Mwoya ? (Apaan sih ?)” kata Annisa dalam bahasa korea.

“Aku mau mengoleksi merchandisenya si Kai,” kata-ku dengan nada memelas.

Ia hanya mendengus kesal, “Nuna ! Kembalikan Pin Kai !!”

“Oh ayolah, hyung ! Aku ingin mengoleksi merchandise Kai ! Kumohon ~! Aku sudah punya pin Kai-Kou dan gantungan kunci. Kumohon, Hyung ~!” aku memelas lagi.

“Oh, baiklah.” Ia mengalah.

Aku tersenyum senang dan memasukan pinnya. Lalu, aku teringat dengan kembaran—ralat, temanku yang sudah aku anggap sebagai kembaran. Ia ingin menitip foto Yui. Hampir saja, aku lupa. Aku hampiri booth merchandise.

Photopack-nya berapa, kak ?” tanyaku.

“30.000. 1 setnya, berisi 5.” Jawabnya singkat dan jelas.

Aku tersenyum, sambil memilah-milih photopack tersebut.

“Yang mana yang Yui,”—Pertanyaan yang bodoh, aku tahu itu.

“Ini yang Yui, isi random, kok” katanya lagi, menunjuk ke arah photo Yui.

Tanpa ba bi bu, “Yang ini saja, kak…”

Aku menunjuk foto Yui. Ia mencabut plastik foto tersebut. Dan aku menyerahkan uangku.

Twinnie, misiku selesai. Menatap pasti foto Yui—Yui buatlah hati kembaranku senang.

Tak lama kemudian, aku dan Annisa dipanggil masuk oleh ka keito—atau ka kate pada jam 12.35. Aku dituntun oleh ka keito ke depan tirai, dan Sei siap menyambut kami.

“Selamat datang, nona. Em, Ada yang bisa saya bantu bawakan ?” katanya ramah.

Sei. Oh, Sei. Kau ramah sekali. Aku memangutkan kepala dan tersenyum, memberikan tas ungu-ku ke tangan Sei. Begitu pula dengan Annisa. Ia pun menuntun kami ke dalam. Para member butler lainnya, terbagi dua barisan dan menyambut kami berdua masuk.

“Selamat datang, nona.”

Lagi-lagi aku memanggutkan kepala dan mengikuti Sei. Tempat duduk kami di pojokkan. Aku melihat sekeliling, ada riasan Halloween. Karena Halloween ada coffin dipojokkan. Kukira Sei akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkiraanku salah ia memohon diri untuk menggambil menu makanan manis kami.

Dan tepat di sebelah mejaku adalah meja Ken. Ini kenapa Ken bersebelahan dengan meja Sei ? Aku hanya menggangguk cuek bebek. Tetapi agak kangen (?) dilayani oleh Ken, the first butler who served me. Mini event, it’s kinda mini, though I love the place which is very convenient than the last I came.

Tak lama, Sei menaruh piring kami berdua.

“Terima kasih, Sei.” Aku tersenyum.

“Sama-sama, nona.” Lalu ia memohon diri dan menggambil paper cup kopi kami, sekaligus garpu dan juga pisau.

“Terima kasih, Sei.” Kataku lagi.

“Sama-sa… Oops,” Ia tak sengaja membenturkan pisau dan garpunya (?).

“Ah …” gumamku kuatir.

“Maaf, nona.”

“Tidak apa-apa.” Balasku.

Ia pun pergi menaruh nampan.

Catatan : Table manner milik Sei mendapatkan 4 poin dari 5 poin yang kuberikan. Sayang sekali ia 
membenturkan garpu dan pisaunya (?) dan kurang cepat menyusunnya. Poin plusnya, cara letak garpu dan pisau benar-benar sesuai aturan. I’m appreciated.

Aku tersenyum antusias, dan Annisa masih terlihat bingung. Astaga, aku lupa ia baru pertama kalinya dan dia tipe orang yang masih bisa beradaptasi jika baru bertemu dengan orang lain untuk pertama kalinya.

“Aku capek, Hyung.” Kataku memecahkan keheningan.

“Kamu sudah ngomong berapa kali, huh ?” balasnya sebal dengan kataku tadi.

Cepat kilat, Sei sudah di samping kami.

“Maaf, nona. Sebelum nona menyantap hidangan nona. Nona, sebelumnya pernah ke sini ?” tanyanya.

“Aku pernah,” aku mengangkat tangan, “Tapi, dia baru pertama kali.”

“Baiklah, kalau begitu nama saya Sei. Dan bolehkah saya tahu nama nona ?”

“Aku Ferin, dan dia Annisa…” kataku sambil mewakili Annisa.

Ia sambil mengingat-ingat. “Bila ada pertanyaan, boleh tanya pada saya.”

Karena kudengar Sei adalah butler mysterious. Maka kutanya lah dia.  

“Jadi, Diablo itu wujudnya seperti apa ?” tanyaku masih bingung dengan wujud Diablo.

“Diablo itu wujudnya seperti kegelapan, nona.” Jawabnya. Mulailah ia menjelaskan keadaan dari event kali 
ini. Seperti yang kita semua tahu bahwa event sedikit misteri karena para butler terlempar ke dalam portal kegelapan, atau semacam itu. Aku mendengarkan penjelasan Sei yang kurang lebih sama dengan laporan para staff di fanpage facebook. Dan ia mengatakan hint butler mana yang sudah terasuki Diablo.

Hint : Butler yang lengannya tidak sengaja di robek Sei.

Aku terdiam. Melihat sekeliling, dan menebak bahwa Rei lah pelakunya. Sei bilang, tahan jawabannya dan menjawabnya nanti saat sudah saatnya. Aku menggangguk senang. Tiba-tiba, fotographer bertopeng tengkorak dan bertopi kucing menghampiri kami. Aku merengek takut. Pasalnya, aku takut berpikiran aneh-aneh karena rumahku sedikit angker dan aku bisa merasakan keberadaan makhluk halus itu. Di rumahku di lantai atas, ada seorang hantu gadis kecil berbaju putih. Kalau aku turun tangga, dia pasti mengikutiku. Aku tidak mau sampai rumah, aku tidak bisa ke lantai atas. Memang sih, aku suka hal-hal horror. Setelah nonton conjuring, efek sampingnya malah sampai sekarang. Aku tidak tenang dengan tempat gelap.

Lalu, kami pun diajak untuk berfoto.

“Jadi, nona mau aku di posisi mana ?” tanya Sei.

“Di tengah, Sei…” jawabku.

Ia merubah posisinya dari yang di sampingku ke tengah antara aku dan Annisa. Oh, jadi Sei, kau 
memisahkan aku dan Annisa. /salah/

“Ada request berpose seperti apa, nona ?” tanyanya.

Aku menggeleng cepat, “Hm, tidak usah, Sei.”

Karena aku tidak mau repot dan macam-macam, Sei, lanjutku dalam hati.

Begitu ambil posisi untuk berfoto, sang bertopeng tengorak tadi tiba-tiba melepaskan item-nya dan bersiap 
memfoto kami. Bersyukur ia melepas topeng itu. Aku merasa Sei sedikit kurang tinggi dariku. Setahuku, Sei tingginya 170 cm dan aku juga 170 cm. Kenapa dia ? Aku mulai berkomat-kamit di dalam hati. Apa salah boots-ku ? Tidak, boots-ku tidak hak sama sekali. Apa iya ini karena aku bertambah tinggi lagi ?

Setelah selesai, berfoto. Kami duduk kembali. Namun tidak untuk Sei, ia tetap berdiri di sampingku.
“Jadi nona,” ia melihatku. Aku mendongak seperti tatapan ‘ya-ada-apa-sei?’
“Nona suka siapa di Platina Parlour ?”

“Aku suka … “ kulirik Ken yang di sampingku, kembali menatapnya, “Aku suka Ken, Kou, Kai, Sei …”
Aku menatap Sei yang tersenyum, “dan Yui.”

“Wah banyak sekali, nona ~” ia terkekeh. Aku juga ikut terkekeh.

Ku potong donat-ku sepotong, lalu kulirik Sei yang masih berdiri. Karena aku orangnya tidak tegaan, dan tahu ia akan berdiri selama 45 menit. Lebih baik kusuruh ia duduk saja.

“Sei,” panggilku.

“Iya, nona ?” jawabnya. Ia tampak sudah siap dengan sejuta pertanyaan yang aku tanyakan.

“Sei, duduk saja. Sei nggak capek ?” ujarku polos—ralat, terlalu polos.

“Oh, nona mempersilahkan saya untuk duduk ?” ia menunggu jawabanku. Tampaknya ia senang. Aku juga ikut senang. /salah/

“Iya,” aku mengangguk tersenyum.

Ia bingung antara duduk di sampingku atau menarik kursi sebelah dan duduk di sebelah Annisa.

“Nona, Mau saya duduk dimana ?” tanyanya lagi.

“Terserah Sei saja,” aku kembali tersenyum.

Ia menggeser kedua tas di sampingku dan duduk di sampingku, “Terima kasih, nona telah membiarkan aku duduk.”

“Sama-sama, Sei. Habis kasihan dirimu, Sei.” Cibirku, menusuk potongan donat dengan garpu.

Aku makin grogi. Oh, Tuhan. Diriku tidak kuat melihat anak yang duduk di sampingku. Aku sudah memasang muka polos bin mesam-mesam. Namun, kata Annisa, pipiku merah dan manis sekali. Merahnya mungkin karena efek blush-on. Ya, mungkin.

“Jadi, Sei. Aku mau tanya…” kata Annisa memecahkan keheningan.

“Apa yang boleh tanya darimu ?” lanjutnya.

Aku ingin menjelaskannya, namun aku biarkan sang misterius ini menjelaskan.

“Hm… Nona tidak boleh masa yang terlalu privacy,” jelasnya. Suaranya sempat bingung.

“Maaf, aku baru pertama kali ke sini …” ujarnya.

Maka, Sei menjelaskan konsep dan asal muasal kafe ini di bentuk. Annisa-hyung mendengarkannya dengan seksama. Seperti dosen dan sang mahasiswa. Begitu selesai menyantap donut manis itu langsung kutegukkan kopi-ku tanpa gula. Annisa saja, ia harus meminta gula. Tetapi aku tidak, aku seorang kafein. Aku sudah terbiasa dengan espresso yang pahit luar biasa. Tak lama, Rei menyandungkan lagu ‘My fair lady’ sambil berkeliling. Kenapa Rei ? Kau kelihatan suram ? Apa efek halloween ? Lalu dilanjutkan sang fotographer, disambung Shuu, lalu terakhir Sei.

Oh, sial. Lagu ‘My fair Lady’ punya kenangan buruk untukku. Karena aku pernah menyunting film hantu saat aku masih SMA. Dan, aku setannya. Sudah jangan banyak ketawa ! Reader jangan ketawa ! Nah, di situ aku ada adegan memiringkan wajah pucatku ke kamera dan bersandung lagu ‘My Fair Lady’. Sialnya, setelah syuting, aku tertabrak pintu kaca dengan teman satu syuting. Dan alhasil, aku dan temanku di larikan dan mendapat 4 jahitan di lengan dan kaki, sedangkan dia 20-24 jahitan di bagian betis.

Banyak yang percaya karena memang ada penghuni lain di sekolahku itu yang dulunya rumah sakit zaman belanda.

Sungguh. Aku merinding dengan lagu itu. Kenapa banyak hal-hal yang kebetulan sama dengan cerita setan milikku ya.

 Sei pun memindahkan dan merapikan meja kami, begitu tahu aku sudah selesai makan. Memindahkan piring ke meja sebelah yang kosong. Ternyata, ia mengajak kami bermain game ‘menemukan-foto-Sei­’. 10 foto member dengan pose duduk di atas sofa besar diletakan terbalik, setelah ia mengshuffle 10 foto tersebut. Tetapi kita tidak boleh memilih foto Touya, Kou, dan Riku. Dimulai lah dari aku.

“Ini…” kataku, menunjuk foto dengan cepat.

“Nona, yakin ?” katanya sebelum membalikkan fotonya.

Aku menatapnya, ia sedang menggodaku untuk membuatku ragu-ragu.

“Ya sudah yang ini saja,” kataku dengan mantap.

Ia pun membalikkan fotonya dan itu Ken. Aku mendeham. Kenapa harus kau, Ken ?

“Kesempatannya hanya tinggal 3 lagi, nona.”

Aku benci permainan ini. Karena ditanganku ada 1 : 10. Dan 3 diantaranya tidak boleh di pilih. Kalau di game Nintendo DS, pasti aku bisa menemukannya dengan cepat. Aku lebih baik memilih jankenpon acchi muite hoi. Karena perbandingannya hanya 1 : 3. Lebih gampang dari 1 : 10. Di event sebelumnya, aku juga memainkan game yang sama, bedanya 1 : 7. Masih lebih mudah. Ini dipersulit. Ya sudah, aku memang tidak pandai.

“Ini …” kataku asal. Karena aku sudah menyerah.

Dan benar, saat di buka itu foto Riku. Aku segera men-death­ glare foto Riku. Sebal. Riku, Bandit. /dilempar pisau oleh yang bersangkutan bersama dengan fans Riku/.

“Sayang sekali, nona anda kurang beruntung …”

Aku menatap pasrah, kartu tersebut. Sebal.

“Mari kita cari foto saya,” ia membuka satu per satu. Dan, sebal. Ternyata letak fotonya ada di pilihan pertama yang ku jawab tidak jadi. Sei ! Kau harus tanggung jawab. Aku sebal.

Kemudian, ia mempersilahkan Annisa untuk bermain. Aku hanya menyedot-sedot kopi-ku yang sudah habis. Masih ada creamer di dalamnya. Aku suka creamer di setiap hot coffee di semua stal termasuk di Krispy Kreme. Melihat Annisa bermain dengan kartunya, dan sayang sekali ia juga tidak beruntung. Sudahlah. Next time, ada kesempatan. Aku berusaha untuk menghibur hati.

Nona,”

Aku menoleh ke arah Sei yang memanggilku.

“Ya, Sei ?”

“Boleh ceritakan sedikit pengalaman nona di event sebelumnya ?” tanyanya antusias.

“Em ~ Kan… Aku event pertamanya juga Krispy Kreme, terus aku di layanin sama Ken…” jelasku hingga 
tiba-tiba Ka Kate membunyikan loncengnya.

Ah. Sudah saatnya tiba. Kami akan ditarik untuk game finale. Menemukan siapa yang dirasuki oleh Diablo

Tentu saja, Rei.

“Ingat hint-nya, nona. Baca mantra Rei.”

Mendadak otakku berhenti. Seperti kaset rusak. Mantra Rei katamu, Sei. Aku bahkan tidak menemukan mantra Rei. Selain Ken, Kou, Kai, Shuu dan Jun. Rasanya ingin kupeluk kembaranku, sekarang juga. Namun bodohnya, aku ingin mengangkat tangan. Berharap ka kate tidak melihatku.

“Ah, sayang sekali, nona-nya Kai sudah di dahului.” Komentar Sei.

Aku menghela nafas. Ya sudahlah. Aku menatap indah, nona-nya Kai. Fighthing !!

Namun, sayangnya. Mereka gagal.

“Ah, mereka gagal,” komentar Sei.

“Iya…” lanjutku.

“Jadi, nona.” Katanya lagi.

“Hm ?”

“Lanjutkan ceritamu tentang event pertama-mu,”

“Oh iya ~!” aku mulailah bercerita dan menatap Sei, “Jadi. Butler pertamaku, Ken. Karena aku dan teman-temanku baru pertama kali datang. Jadi sedikit awkward. Tapi, Ken… Baik ~ Dia selalu mincing kita buat 
mengobrol sama dia.”

Sei tersenyum saat aku bercerita tentang Ken, dia pendengar yang baik. Untungnya, aku saat itu masih polos dan sinyal fujo-ku sedang turn-off. Bisa-bisa meja kafe ku sepak terjang.

“Oh iya, Sei ~! Nona Annisa berulang tahun, lho !!” cibirku.

Annisa tersontak kaget.

Aku tersenyum puas.

“Oh iya !!” Sei langsung menjabat tangan Annisa dengan 2 telapak tangannya, “Selamat ulang tahun ~!”

“Terima kasih, Sei.” Ucap Annisa tersenyum.

Aku senang. Senang pake banget. Aku bukan yang berulang tahun, tetapi melihat temanmu berulang tahun dan bahagia. Tidakkah kau senang. Aku senang kalau tanggal event ini bertepatan dengan ulang tahunnya. Ini diluar dugaanku. Tetapi, aku berhasil membuat harinya tambah bahagia saat Sei mengantarkan kami keluar, tetapi ia mulai bisik-bisik dahulu dengan sang manager, Kak Kate.

Ka Kate kembali mendentangkan loncengnya, “Semuanya perhatian.”

Aku tersenyum antusias, Annisa tersenyum gugup saat semua orang menatap dirinya. Semua orang seisi kafe.

“Nona saya berulang tahun,” ucap Sei.

Jun tersenyum, “Wah ! Selamat ya, nona. Kita harus ucapkan nih.”

Annisa menggangguk malu.

“Jadi, bolehkah saya tahu nama nona siapa ?” tanya Jun kepada Annisa.

“Annisa…” jawab Annisa singkat.

“Ken, Ken…” panggil Jun. Ken tampaknya masih sibuk dengan ketiga nona-nya.

“Ya ?” Ken mendongak.

“Nona ini berulang tahun, kita ucapkan bersama-sama.”

Ken melangkah, mendekat.

“1…2…3…” Jun memberi aba-aba.

“Selamat Ulang Tahun, Nona !” seru para butler dan diikuti tepuk tangan dari para nona sekaligus staff.
Kulihat Annisa sudah mulai terharu. I know this moment will one of the best moment in her every birthday moment. Ia menahan rasa terharunya dan mengucapkan terima kasih. Lalu, Sei mengantarkan kami keluar. Aku tersenyum senang, begitu pula dengan Annisa.

“Ini nona, tasnya” kata Sei memberikan tas kami.

Kami mengambil tas kami, “Terima kasih, Sei.”

“Iya, sama-sama. Datang kembali, ya ?”

 Aku pun melambai pelan padanya, “Iya, Dagh-dagh, Sei ~!”

Ia tersontak dan tersipu sambil membalaskan lambaianku pelan, “Dagh.”

Eh. Kenapa? Aku bilang dagh-dagh ? Aduh, kebiasaan.

Well, apapun itu kembali aku hanya bisa tersenyum puas dengan hari ini. Semua kemanisan menjadi satu. Makanan yang manis. Event yang manis. Butler yang manis. Momen manis untuk sahabatku. Ini Sweetest Halloween party ever.

Begitu keluar area, aku bertemu dengan teman cosplayku yang seharusnya sejam denganku. Namun, mereka terlambat. Mei-mei—atau banyak memanggilnya Li—ia menangis karena tidak dapat masuk. Aku orangnya punya rasa keibuan atau kakak yang baik (begitulah kata beberapa teman yang dibawah umurku). Aku spontan mengusap airmatanya, namun airmatanya tak kunjung berhenti. Aku bingung harus bagaimana. Aku pun permisi untuk pergi dan akan kembali dengan mereka setelah I spent my time with my friend who is birthday today. Eh, aku juga bertemu dengan Ka Aschid. Aku memang sempat janji bertemu dengannya. 

Akhirnya, sekian lama aku bertemu dengannya. Senangnya diriku.

Setelah itu kulanjutkan, diriku bersama Annisa.

Nuna, aku lapar.”

Aku terdiam, terkekeh.

“Ya sudah, aku temani kau makan. Aku sudah kenyang,” ujarku.

See you at next event ~
P.S
Annisa tadi memang tidak menghabiskan donat-nya, dan melanjutkan ronde-2nya dengan sepiring spagetthi di restoran langganan-ku, Pasta de Waraku. Ia mentraktir-ku secangkir hot ocha dan Ice-cream pizza mini.

P.S.S
Annisa menukarkan foto keluarga Platina Parlour dengan pin Riku-nya. Riku kembali lagi kepadaku.

P.S.S.S
Annisa mengatakan bahwa ia suka Rei. Aku hanya terdiam.

P.S.S.S.S
Aku ada ngomong dengan Sei, jika aku kangen Kou. Dan aku salah ngomong. SALAH.

P.S.S.S.S.S
Aku lupa titip salam untuk Yui dari kembaranku. Lupa sangat.

P.S.S.S.S.S.S

Berikut Selca aku dengan hyung-ku, Annisa. Dan Our mysterious,yet, sweet butler, Sei.


Selca with today's lucky girl >3<


This is Mysterious, yet, Sweet Butler--Sei. 


Note ;

- Overall the event is blast :))
- Service quite good ~ !
- A good table manner
- A good character butler become my listed favorite butler. Kuudere, yet, sweet. Remind me with Kuroko Tetsuya.

XOXO,

Ferin.








Sunday, October 20, 2013

The day before Bewitched



AFAID—Sept, 7th
The hell is this ?!
Persetan dengan human’s traffic. Ini betul-betul keterlaluan . I can’t really move freely ! No space to move-on. Move-nya beda dengan istilah untuk berpindah hati. Serius, saya galau akut pemirsa di event ini. Antara menyesal dan tidak. Bagian menyesalnya, ya, tentu saja karena human traffic-nya. Andai saya punya 3D-maneuver, tapi mau di sangkutin di mana coba talinya.

Bagian dari tidaknya, gue ganteng jd Kise Ryouta—salah—aku dapet high five gagal dari Reika. Antara mau nangis karena dapat high five walau gagal, dan nangis karena bisa ketemu sama Reika. Mau nangis di tempat.  Yak, in character gue kalau mewek di tempat kayak Kise Ryouta.  Nah, berjalannya waktu. Ane mau niat pulang dan ke Senayan mau lihat penampilan teman teater. Dan…

“Ah, maaf” kataku yang berpapasan dan  hampir menabrak seorang pemuda. Lalu, saya berlalu dengan menggandeng Ciel,lain tak lain, anak—salah—teman cosplay saya.

Hm ? Barusan itu seragam butler Platina Parlour kan itu ? Lha ? Tadi itu Sei, kan ? Langsung saya celingak celinguk.

DEG !

Agabjdwbwjdbwjbdjwb ! Ken ! MAIGOD !  -internal growl atau howl atau scream- Mampus kokoro gue ! Kokoro gue ! Kokoro gue lelah lihat yg berferomones-feromones #apacoba.

Wo- Eu-Reu-Reong! Eu-Reu-Reong! Eu-Reu-Reong!-ni, Wo- Eu-Reu-Reong! Eu-Reu-Reong! Eu-Reu-Reong!-ni.

Saya membayangkan saya nari lagu growl –EXO M di basement JCC, mengalahkan suara dangdut, eh lagu dangdut Caesar dan lagu JKT48 – Fortune Cookies.

JANGAN. Hentikan imajinasi gilamu.

 Kembali kea lam sadar. Dan ya, Aku  melihatnya, salah satu ikemen butler Platina Parlour di pojok booth Re:On.

Lalu, langsung samber aja booth Re:On. Terus tersenyum ke mbak booth.  Sekaligus melirik sosok butler lagi gambar-gambar di pojok kiri sana.

“Silakan dibeli merchandise-nya,” tawar si kakak cantik di booth Re:On.

Mata saya bergermelap, melihat keychain dan gantungan hp-nya Platina Parlour. Tenangkan dirimu, Ferin. Jangan berfangirling di depan booth orang. Entah saya langsung nunjuk keychain-nya Kai. Seharusnya, Ken atau Kou atau siapa lah itu. Nggak tau, kenapa kepengen aja. Di Rumah, udah ada pin-nya Kou sama Kai. Koleksinya Kai bertambah 1, menjadi 2, teman-teman. Abaikan.

“Komiknya nggak sekalian,” tawar kakak tadi, sekali lagi.

Aku terdiam, “Berapa, kak ?”

Jangan lebih dari 30 ribu, please. Emak bisa ngoceh kalau aku beli buku lagi, Pasti yakin emak ngoceh kayak gini “FERIN, MAU TARUH MANA LAGI MAJALAH-MU NAK ! LEMARI UDAH PENUH SEMUA ! JUALIN SATU KE TUKANG LOAK”. Teriak di dalam hening sang lady, eh, gentleman. Kan lagi jadi Kise. 

“20.000, dek.” Ucapnya.

Berpikir dalam diam. Beli, tidak, beli, tidak ?

“Dapat tanda tangannya dari komikus-nya,” lanjutnya.

Saya kembali berpikir. Galau mampus ini.

“Gimana, dek ?” tanya-nya lagi, sudah siap-siap menulis bon.

“Jadi deh.”

Emak, maafkan dirimu yang membeli majalah, eh, salah komik lagi.

“Vol 1 atau 2 ?”

“2 saja,” jawabku singkat, menunggu bon-nya.

“Yang Vol 1-nya udah ada ?”

Iya juga. Gue di rumah ga ada yang vol 1-nya. Itu pun yang vol 1, punya temen. Ya udah lah ya. Abis ngiler sama cover-nya.

“Ada,” jawabku bohong, tanpa basa basi, mantap, dan udah tahan diri buat nggak berfangirling.

Si kakak tadi langsung memberikan bon tanda pembayaran. Menerimanya, sambil mengambil uang di tas. Ke kasir, nyerahin duit, terima komik dan merchandise, terakhir minta tanda tangan.

“Mau minta tanda tangan, ya ?” tanya kakak komikus one shot, Invasi 17 Agustus. Kak Chris Lie.
Aku menggangguk bahagia. Bahagia kayak anak anjing yang bakal dipungut tuannya. Sayangnya, saya tidak akan dipungut. Abaikan.

Tanda tangan majalah komik saya di pindah operkan ke Komikus yang lain. Semuanya. Semuanya terkecuali 2 kakak manager Platina Parlour. Memang saat itu keduanya tidak ada di tempat. Saya menciut. Senyum masam, memberikan terima kasih yang telah menanda-tangan.

Aku kembali menggandeng teman kecilku, takut anak ini hilang di telan Human traffic. Ini Human Traffic, ya. Bukan, Titan di Shingeki no Kyojin. Kalau ada pun, saya selamatkan diri dan membopong si adik kecil ini pergi dari JCC.

Rin, Lupa sesuatu. Bisik malaikat hati.

Saya menepuk jidat. Oh iya, lupa menyapa sang butler. Lalu, ku tarik Ciel lagi ke tempat Butler. Dan si Ken 
masih sibuk gambar. Saya sudah memasang poker face, menutupi teriakan hati.

“Emm ~ Kak Ken.”

Oh shit. Why I add ‘kak’ ? Kebiasaan.

Dia nengok, tersenyum. “Ya ?”

Tahan. Tahan internal growl-mu, Rin.

“Boleh minta foto tidak, kak ?”

EH ! INI MULUT SALAH BERBICARA !! ASTAGA !! SALAH !! BENERAN SALAH !!

“Maaf, ya. Sama Boss-nya nggak di kasih,”

Sebenarnya, kak ken. Saya sudah tahu. Cuman. Aduh kenapa modus gini ?

“Ya sudah, Nggak apa-apa, kak”

“Ah, nanti bulan depan saja, ada event” katanya lagi.

“Eh ! Oh gitu. Yah sudah ~!”

Ia tersenyum.

“Okeh deh, dagh kak ken.”

Rin. Apa-apaan dengan ‘dagh’ ? Modus abis lo. Nggak bermaksud gitu kok sebenarnya. Astaga.

Baru lah saya menarik jauh si Ciel jauh.

“Mama, nyesal ke sini ga ?” tanya si Ciel, mengikuti langkah-ku.

“Setengah nyesal. Presentase 60 % tidak menyesal. Benar kata pepatah,”

“Kenapa, ma ?”

“Ada mutiara di sekumpulan sampah,” ujarku tersenyum puas.

Ciel, anak sekaligus teman cosplayku, membalasnya dengan sweatdrop.

“Itu sih nancep lho, ma”

“Semasa bodo,” tawa ku.

Dance Practice—Sept 21st
Benar-benar letih dan lelah masih terasa setelah dari AFAid. Tapi sudahlah, aku berangkat ke CP buat latihan dance Vocaloid – If you do do. Saya belum hafal, karena saya termasuk orang yang lebih suka freestyle ketimbang Cover. Dari kecil sampai sekarang, lebih suka freestyle. Dan bodohnya lagi, aku salah memakai sepatu. Sepatu boots, kawan-kawan. Berat sangat. Salah besar.

Begitu sampai CP, aku langsung menemui kembaran tidak sedarah, yaitu Takumi. Nama aslinya sih, Kenny. Tapi aku lebih suka memanggilnya dengan Takumi. Kita berdua janjian buat ketemu di AFA, dan tampaknya tidak jodoh. Dan akhirnya, sebagai permintaan maaf ia memberiku pin Free! Dia terlalu baik.
Tinggi kami berdua, hanya berbeda 2-3 cm. Dan lagi-lagi, aku lebih tinggi. Sesama penyuka anime yang ada cowok ganteng. Aku sudah terbiasa dengan kelakuan yang lebih imut disbanding aku yang selalu memasang poker face.

Bedanya.
Aku, kuudere. Dia, deredere.
Aku, freestyle. Dia, Coveran.
Aku, gentle. Dia, rada-rada ceroboh.
Aku, Ganteng. Dia, Moe. #inifakta.
Aku, anak seni. Dia, anak bisnis.

Samanya.
Sama-sama suka anime.
Sama-sama pencinta harujuku style.
Sama-sama suka masak.

Dia lebih banyak tanya soal style bajunya dan mengenai masakan. Janjinya setelah midtest, kita hunting baju. Baju untuknya, kalau aku hanya bantu pilihin. Dan sebelum latihan, kita makan siang di atas terik matahari dengan pemandangan serasa piknik di depan taman. Panas. Tapi adem.
Aku buat fish cake di roll sama mie goreng cabe ijo merk indomie dan onigiri isi kulit salmon. Dan dia buat spaghetti. Bertukarlah kita.

“Ferin-san ~ Jago masak. Enak ~! Ini apain ! Enakkk ~!” pujinya.

Aku menggambil dan menggulung spaghetti dengan garpu. Memakannya. Not bad untuk ukuran pemula. Kurang lembek. Hampir matang. Tapi enak.

Selesai makan. Mulailah ronde berfanboying atau berfangirling. Lalu, kuceritakan masalah Butler Café dari dia ingin jadi butler kelak, sampai ke Platina Parlour.

“Ferin-san, kalau ke Platina Parlour, ajak-ajak ya,” katanya ceria.

Aku terkekeh, “Iya, twinnie.”

“Mau ketemu Yui ~” tambahnya.

Cepat sekali dia menjadi fanboy Yui.

“Abis ganteng sih !”

Kalau nggak ganteng, mana masuk Platina, my twinnie.

Waktu berputar cepat. Aku dan teman-teman lainnya memulai latihan kami. Sudah pancing 1 orang buat nemenin aku ke Platina Parlour. Oke, sip.

Berjalan waktu setelah penungguan ku mengenai event berikutnya, akhirnya …

Sep 23rd , At Home.
Sebulan September diriku jadi rajin gambar. Termotivasi dari karya komik Re:ON, ceilah. Ponsel BB ane bergetar, notif FB ternyata.
Mataku membulat melihat announcement dari admin PP.

Oct 26th, Krispy Kreme GI.

GI ?! Seriusan ! Jinjja ! Hontou ni ?! Zhen de ma !! –keluarlah 4 bahasa alien-

Wah ! Enak nih tempatnya –berkedap kedip- Sekalian belanja.

Kutunggu daftar reservasi-nya. *guling-guling*

*
OCT

Berhari-hari, mulailah banner FB PP mengeluarkan siapa saja yang hadir. Dan yang hadir adalah : Ken, Kai, Yui, Rei, Sei, Shuu, dan Jun.

Senyum masam, tidak ada Kou dan Touya. Senyum senang, tidak ada Riku—walau penasaraan.

Ya wesslah, nikmati saja. –Maafkan, lady satu ini yang masa bodo. Oh lalala ~

Hyung, Jadi kan dirimu pergi ke butler café ?” tanyaku lewat line—ke teman sekelas, Annisa.

“Iya, Jadi. Kenapa kau panggil aku dengan hyung,” jawabnya.

“Efek FF EXO, hyung,” cibirku.

“Dasar. Sama siapa saja kita ?” tanyanya.

“Cuman berdua, hyung,”

“Demi apa ? Kenapa ?”

“Nobuta sama Amanda ada jadwal midtest, dan nggak tahu kapan kelarnya. Eomma Regina mau liput fashion week. Kembaranku yang manis itu masih ada ujian, dilarang keluar untuk sementara.” Jelasku panjang lebar.

“Ya udah.”
*

Nah. Mulailah kekalapan saya pada hari reservasi. Pulang kampus langsung duduk di depan laptop tercinta. Persetan sama traffic di pasar baru ! Slot udah beberapa full lagi. Damn ! Please, sisakan aku beberapa slot !
Login Line. Mana Hyung, pikirku.

Kenapa line-ku nggak dibalas.

Loading Download Daftar Reservasi. Gagal.

—You’re freakin’ kidding me, Smartfr*n.

Akhirnya, ku download ulang. Dan berhasil, hore !

Ferin : “Hyung !

Annisa : “Apa ?”

Ferin : “Mau jam rapa ?!”

Annisa : “Sore aja, biar bisa bareng ama Nobuta”

Ferin : “Nobuta, fifty-fifty, hyung !”

Annisa : “Ya wess, Berdua aja.”

Ferin : "Hyung, 12.30, ok ?"

Annisa : "Okay ~"

Dan akhirnya saya menggirim email saya dan berdoa semoga tidak fail dan tidak penuh. Tidak ada tanda-tanda balasan. Mulailah saya galau, dan menunggu sampai besok.

*
Masih dalam kuatir, mengecek setiap sela-sela aktivitas di kampus. Was-was jika penuh dan siap menjerit. Saya lupa, saya nge-tweet apa. Tapi dibalaslah oleh Ka Yuki, salah satu manager Platina Parlour.

“Emailnya masuk kok,” ujarnya.

“Seriusan ?” balasku.

“Kalau sudah mohon emailnya, jadi langsung ku update,” katanya.

“Oke kak, makasih~”

Saya waktu itu lagi makan bakso di Grand Lucky bersama bunda tercinta. Hampir menjerit. HAMPIR, 
saudara-saudara. Hanya saja, saya mengangkat tangan ke atas. Bunda tersontak dan terkejut.

“Lin, Kamu kenapa ?”

Emakku kadang suka memanggilku Lin, bukan karena cadel tetapi nama mandarin-ku adalah San Lin. Ini tidak penting.

“Emak, mau transfer ~!”

“Transfer apa ?” tanyanya curiga sebelum tangannya meraih tasnya.

“Ke butler café.”

“Lagi ?”

“Mengusir penat, ma. Sama teman sekelas, kok,” jelasku sambil memasang mata memelas ala anak anjing.

“Deborah ikut lagi ?” ujarnya.

“Nggak, ma. Dia lagi ujian,” jawabku masih memasang mata melas.

“Ya udah. Nanti suruh mbak buat ke bank di depan,” Mama menggambil atm-nya dan menyuruh assiten 
rumah tangga a.k.a mbak ke atm.

Tersenyum puas. Misi berhasil. Tinggal kepak-kepak sayap bebek. Lalu, yang mencenggangkannya lagi adalah reservasi di sabet habis oleh para nona-nona cantik langganan Platina Parlour sebelum 24 jam. Selamat. Selamat atas laris manisnya dan saya selamat bisa beruntung mendapat reservasi tersebut.

Terima kasih. Kenapa saya berterima kasih, ya ?

*Preparation*

Gothic Halloween Party, katanya.

Astaga. Aku memang suka belanja dan mengoleksi item fashion. Demi Tuhan. Aku bingung sendiri. Baju-ku jadi kebanyakan baju santai dan sleeveless semua ? Ku obrak-abrik lemari bajuku. There’s impossible that I don’t have any dresses. Yeah. I found it, dude.

Tiga dress, hadiah tante ane. Oke. Is it possible that I wear one of these black dresses.

Tidak.

Jemariku memasukkan kembali dress itu ke dalam lemari. Mulailah aku tahu titik frustasiku. There’s no right outfit. Aku memutuskan untuk belanja ke Lotte Avenue, Kuningan. Tempat ini surga bagiku. Food & Beverage-nya bagus-bagus dan enak-enak, sayangnya, menguras dompet. Dengan langkah mantap aku masuk ke dalam salah satu store yang terkenal di Jepang, Uniqlo.

I’ve been falling in love with this brand when I went to Japan last August.

Begitu masuk, langsunglah saya mencari dress. Mana dress incaranku bulan lalu, pikirku. Dua kemungkinan, sold out dan sudah pindah musim. Oke. Cari sasaran lain. Aku mendecak kesal karena harus berdesakkan dengan tante-tante di sana. It’s freakin crowded. Ya, ya ini hari minggu.
Sudah berkeliling selama 15 menit, akhirnya kutemukan dress ballerina. Dress ini multi-fungsi, bisa jadi rok dan dress. Aku kemudian berpikir, bisa jadi aku menjadi peri bunga atau semacamnya. Langsunglah saya menghajar diri ke kasir.

Dan dapatlah saya dress ballerina.

Namun hati malaikat, melarangku untuk memakai ini ke event dan mencari sesuatu yang baru mungkin stocking. Yap. Saya menemukan stocking yang kuincar sebelum aku berangkat ke jepang kemarin. Aku jatuh cinta dengan stocking ini dan langsung menghajar diri kembali tanpa pikir panjang. Membuat sang bunda menggelengkan kepala.

Yak. Preparation selesai.

Kemeja Lace hitam, short pants, stocking, dan ankle boots.

The make up till the outfit ~

And I’m looking forward to bewitched by them.XOXO,Ferin.


Thursday, October 3, 2013

Short story : Aullido

Hey ! People and Aliens.
Long time no update. xixi.
Well, today I will update one of my master pieces. Actually this is my amateur synopsis for my subject in my university. It's called Creative Writing, with a phenomenal lecturer, Mr. Arswendo Atmowiloto. He teaches how become a good writer or a script writer. To be honest, I'm a big fans of him when i was young and watched his drama called Keluarga Cemara. And I use my change to ask about how to become a good writer. Well, I love writing since I was junior high school then I would like to be script writer for some big movie someday if I can release at least two books which are best seller. That's my dream.

Now, Let's move on to my synopsis named Aullido that means as Howl in English.


Hidup itu seakan sebuah cerita yang telah disusun sedemikian rupanya. Langkah kaki kita bergerak menurut tujuan kita. Hidup tanpa tujuan sama halnya sebuah boneka yang ditelantarkan di pinggir jalan. Kita manusia diberikan Tuhan sebuah anggota keluarga selalu akan mencintai kita, teman yang selalu siap mendengarkan kesedihanmu dan juga selalu membuat kita tersenyum yaitu seorang yang spesial bagi kita. Akan tetapi, di setiap cerita pasti ada peran jahat atau  dimana ia diciptakan untuk menantang kita si karakter utama. Hidup tanpa tantangan, itu hanya hidup yang biasa-biasa. Tantangan atau cobaan bukan membuat kita terjatuh tapi melainkan untuk memberikan semangat, mengintropeksikan diri, dan juga timbul rasa pantang menyerah.
Senang, sedih, marah, benci, suka, dan duka adalah ekspresi manusia dalam hal pengungkapan perasaannya. Terkadang manusia selalu saja menyembunyikan perasaannya karena ada rasa takut untuk mengungkapkannya atau mungkin perasaannya itu tidak mau mempengaruhi orang-orang yang di sekelilingnya. Manusia berbuat dosa karena rasa ego muncul pada dirinya.
Terutama ketika manusia mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Ego, cemburu, dan memonopoli satu sama lain sering terjadi saat ia berhubungan dengan beberapa perempuan yang seumuran denganku. Memang belum hubungan layaknya sepasang kekasih, hanya teman tapi mesra saja sudah main ikat-mengikat. Membuat Tao, salah satu primadonna sekolah ini tidak mau berhubungan serius dengan orang-orang pada umumnya. Ia sudah lama memilih untuk diam ketimbang untuk beradu mulut. Namun, di samping itu, ia sangat dekat dengan teman-teman yang bertumbuh sejak kecil dengannya. Hanya mereka yang bisa merasakan sedikit dari kehangatan Tao dan  melihat langsung senyum kecil miliknya.
Beda halnya dengan Kai, sahabat Tao dan ketua osis di sekolah mereka. Kasusnya memang tidak jauh dengan Tao yang di dambakan para wanita, namun Kai tidak banyak pikir panjang jika sudah yang namanya ‘lingkaran persahabatan’. Si pemilik rambut coklat terang dengan potongan pendek ini justru suka berteman dengan siapa saja dari kalangan senior maupun junior-nya. Tapi kembali lagi, satu-satu orang yang ia anggap sahabat adalah si silent wolf, Tao. Keduanya sudah memiliki ikatan sejak kecil dan sudah seperti kakak beradik. Saat banyak gadis yang datang padanya dan menyatakan perasaannya, walaupun cara-cara mereka berbeda tetapi ia tidak bisa berpindah hati selain seorang gadis bernama Flo yang di panggil Tuhan dari hidupnya. Ironis sekali.
Begitu, si pemilik nama yang di ambil dari rasi bintang Taurus ini tertarik dengan seorang gadis yang baru saja pindah ke sekolah mereka. Tidak lain lagi yaitu, Ayana atau yang biasanya di panggil Aya. Dia berbeda dengan gadis pada umumnya, selalu bersikap biasa saja, dan tidak mengenal bahwa diri Tao adalah seorang primadonna atau anak pengusaha terkaya di kalangannya. Sosok keluguan Ayana ini masuk ke dalam antara hidupnya dan melihat itu, Kai berusaha keras untuk menyatukan keduanya karena ia tahu bahwa saatnya Tao tahu rasanya mencintai seseorang. Seperti pepatah mengatakan, “A man has free choice to begin love, but not to end it” maksudnya adalah para lelaki bebas untuk memulai bercinta, bukan mengakhirinya layaknya yang selalu Tao lakukan, selalu dan selalu menolak untuk berinteraksi dengan lawan jenisnya.
Ayana pun dengan polosnya, menurut apa yang dikatakan oleh Kai dan teman-teman lainnya yang senang menjahilinya sehingga ia bisa dekat dengan Tao. Kesengajaan yang pada akhirnya, masuk ke dalam lubang sendiri. Kai yang namanya juga di ambil dari rasi bintang Caelum ini mulai tidak bisa menepati janjinya yang semula ingin menyatukan sahabatnya dan Ayana pun akhirnya menyukai si bunga kecil itu. Di saat yang sama, si silent wolf  itu tidak segan-segan menyatakan perang terhadap Kai. Sedangkan, Ayana mulai kebingungan dengan tingkah laku kedua pemuda yang biasanya sangat dekat menjadi pecah. Ia tidak bisa menetapkan hatinya untuk siapa, namun ia pun menerima perasaan Kai tanpa ada perasaan khusus dan agar mereka bisa berbalik menjadi seperti dulu.
Keputusan Ayana yang memilih Kai adalah salah besar. Tao sendiri semakin tidak mau berbicara dengan siapa pun, bahkan pada Kai dan Ayana. Keberadaan Tao mulai sulit di lacak. Itu hanya membuat Kai merasa bersalah karena ia harus mengikuti egonya. Ia tidak seharusnya mengancam kepada Ayana bahwa ia harus memilihnya dan ia akan menjamin bahwa keadaan yang sebelumnya akan kembali lagi.
Salah besar. Kesalahan utama yaitu tidak seharusnya ia menyukai Ayana. Bahkan, teman-teman lainnya lebih memihak kepada Tao dibanding pada dirinya. Dan lebih parahnya lagi, Ayana mulai dicap tidak benar oleh para fans Kai dan Tao. Gadis itu harus menerima siksaan dalam bentuk fisik dan mental. Kesibukan Kai sebagai ketua osis, tidak selalu dapat menolong Ayana dengan tepat waktu. Sebaliknya, dimana Ayana sedang ditindas, Tao selalu menolongnya. Walaupun sang serigala ini menatap dingin Ayana, tetapi hatinya masih ingin memeluk gadis itu. Ya, Semuanya terlambat. Bagi Tao sendiri, Ayana bukan siapa-siapa bahkan ia sekarang adalah kekasih sahabatnya, tidak, mantan sahabatnya. Tao hanya bisa mengelus-elus kepala gadis itu dan mengatakan bahwa tenanglah karena Kai akan melindunginya.
Pecinta novel fantasi ini mulai bertanya kepada si Caelum apakah Kai betul-betul menyayanginya atau justru sebaliknya. Jawabannya sudah jelas ia sangat teramat menyayanginya, sayangnya, ia betul-betul ingin kembali kepada awal mereka bertemu dan mengubah semua cerita di antara mereka bertiga. Ia merasa bahwa ia lah yang salah, kenapa ia harus menyukai Ayana dan kenapa ia harus menghancurkan hubungan mereka berdua padahal sejak awal hal itu yang diinginkan olehnya. Butir-butir airmata berjatuhan membasahi pipi Kai, mata penuh penyesalan. Kai terus menyalahkan dirinya hingga Ayana semakin tidak tega. Keputusannya mulai bulat, Ia akan mencoba untuk menyukai Kai walaupun itu semua butuh proses yang cukup lama. Semula berjalan lancar, namun pada akhirnya Kai sadar jika Ayana sebenarnya menyukai Tao. Karena mata Ayana tidak bisa menipu, namun kenapa hingga sekarang gadis itu tidak menyadari perasaannya pada Tao. Kai kuatir takut perasaan Ayana padanya saat ini hanya simpati.
Dan akhirnya Kai terpaksa mengatakan kata-kata pahit pada Ayana :
You say that you love rain, but you open your umbrella when it’s rains,
 You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines,
You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows,
 That’s why, Iam afraid, You say that you love me too,”
Ayana tahu betapa Kai harus mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakannya dan Kai menghilang di tenggelam tengah gelapnya malam. Kai mencoba menahan emosiku tapi tetap saja tak lama kemudian, air matanya mengalir dan kembali membasahi pipinya. Ia akan mengingat mengenai Ayana dan bagaimana ia bisa jatuh cinta terhadap gadis lain selain Flo, teman sejak kecilnya dan cinta pertamanya yang meninggal karena kanker. Kai meminta maaf pada Tao bahwa ia tidak dapat menjaga Ayana dengan baik dan mengatakan bahwa gadis itu justru menyukainya bukan kepadanya. Tao juga tahu hal itu, ia juga tahu bahwa sahabatnya itu tidak bermaksud untuk mengambil Ayana darinya. Hanya saja, semua karena ego masing-masing jadinya mereka merebut satu sama lain tanpa harus melihat siapa yang mereka hadapi. Dan semuanya kembali seperti semula dan mulus. Tidak sampai, Kai dan Ayana mengalami kecelakaan saat di hari yang ditetapkan olehnya untuk Tao menyatakan perasaannya pada Ayana. Drama lagi, kata salah seorang teman Tao yang paling muda. Nyawa Ayana tidak melayang begitu saja, tetapi nyawa Kai lah yang justru dikuatirkan karena ia kehabisan begitu darah dan kepalanya terbentur begitu keras. Koma, antara hidup dan mati. Setiap hari, Tao duduk menjaga Kai. Dia sudah tidak peduli bagaimana perasaannya, yang penting sahabatnya bisa terbangun dari tidur lamanya. Berulang kali, Tao memimpikan masa-masa sahabatnya dengannya bisa bertemu dan menjadi sahabat yang kental hingga saat ini. Ia tidak pernah meminta kepada Tuhan kalau sahabatnya harus pergi, walaupun ia pernah marah besar padanya waktu itu. Tetapi takdir tetaplah takdir, Kai mungkin tidak pernah akan bangun dari tidurnya meski Tao harus menangis histeris sekali pun. Memang sebelum Kai masuk ke ruang operasi dan ia sempat sadar. Ia berpesan untuk menitipkan Ayana padanya dan tetap menjaga teman-teman lainnya jika nyawanya tidak tertolong.
Tao tidak mau itu terjadi. Bagaimana pun Kai itu adalah bagian hidupnya, sahabatnya yang sudah berkorban banyak kepadanya. Semalam suntuk, Tao menunggu hasil operasinya. Teman-temannya membujuk Tao untuk beristirahat, karena sudah seminggu lebih ia tidak cukup banyak tidur. Begitu hasil operasinya keluar, betul-betul hasil yang mengejutkan kedua kakinya lumpuh. Tragis ? Ironis ? Apa salah Kai ? Kai tidak berdosa kok. Ah, ya. Ia merebut Ayana dari Tao. Kai hanya tertawa miris melihat keadaannya. Sepertinya, Tuhan belum memanfaatkan dirinya. Sudahlah, memang sudah takdirnya. Tao yang dari awal hanya menangis di pangkuan Kai ini mulai bertanya kenapa dan kenapa. Ya, Kenapa harus sahabatnya menanggung semuanya. Lelah, Tao sudah lelah dengan cobaan dirinya dan persahabatannya.
Dan keadaan Ayana sudah lebih membaik tetapi batin masih belum sembuh. Penyebab Kai kecelakaan, itu adalah salahnya. Ia hanya bisa kehabisan 1000 kata yang ingin ia ucapkan pada pemuda yang pernah masuk ke hidupnya. Ingin rasanya memasang kedua tulang kakinya untuk Kai. Ayana tidak tahan dengan perasaan yang bercampur aduk, melihat bagaimana Kai telah mempertaruhkan semuanya padanya dan Tao. Bahkan Kai rela kehilangan kedua kakinya. Kalimat “sudah lah” terus di ulang oleh Kai agar Tao dan Ayana tidak menyalahkan diri mereka terus menerus. Ia hanya meminta jika sahabatnya tidak menunda-nunda lagi perasaannya kepada Ayana. Setelah ini pun tidak ada lagi yang harus salah menyalahkan atau bahkan terjadi perpecahan antara satu sama lain.
Dan begitulah cerita singkat
Seorang Taurus mendambakan sang bunga, dan
Kisah persahabatan
Selalu terkait menjadi satu lingkaran
Satu ikatan yang kuat
Dengan seorang Caelum.
Neither of us can do this alone. So we gotta do it together, right ? You with me ?
–Linguini (Ratatouille)


Well. This is my synopsis that i will apply tomorrow or next week. Is it good or bad, please do a review :)
Big Thanks to My lovely EXO for inspire me with your song.